Laman

Al- Islam

https://www.facebook.com/Islamedia.Co?fref=nf

www.kisahikmah.com


Beginilah Aturan Islam dalam Perang dan Memperlakukan Tawanan
Salah besar bila menganggap Islam sebagai agama yang tidak menghargai hukum. Faktanya, Islam tidak pernah menyetujui praktek-praktek yang melanggar hukum.

Sebagai contoh, perlakuan 
terhadap tawanan perang. Islam merupakan agama yang menghindari praktek kekerasan terhadap tawanan perang. Contoh lainnya, Islam menekankan sikap sopan santun dalam pertemuan. Ajaran itu tertuang dalam Alquran, surat Al-Insan ayat 8. 


wayuth‘imuna alththha’aama ‘alaa hubbihi miskiinan wayatiiman wa-asiiraa
www.islamedia.com


“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.” (QS. Al-Insan: 8)



Dan berikut ini sejumlah hadist yang meriwayatkan ajaran agar mendorong umat Islam tidak membunuh orang lain.

“Dilarang membunuh anak, perempuan, orang tua dan orang yang sedang sakit.” (Imam Abu Dawud).
“Dilarang melakukan pengkhianatan atau mutilasi. Jangan mencabut atau membakar telapak tangan atau menebang pohon-pohon berbuah. Jangan menyembelih domba, sapi atau unta, kecuali untuk makanan.”(Al-Muwatta).
“Dilarang membunuh para biarawan di biara-biara, dan tidak membunuh mereka yang tengah beribadah.” (Musnad Ahmad Ibn Hanbal)
“Dilarang menghancurkan desa dan kota, tidak merusak ladang dan kebun, dan tidak menyembelih sapi.” (Sahih Bukhari, Sunan Abu Dawud)
Nabi Muhammad SAW juga telah mengeluarkan instruksi yang jelas untuk memberikan perawatan terhadap tawanan perang. Sejarah mencatat bagaimana umat Islam saat itu menangani tawanan pertama selepas Perang Badar pada 624 Masehi. Sebanyak 70 orang tawanan Makkah yang ditangkap dalam perang itu dibebaskan dengan atau tanpa tebusan.
“Pagi dan Malam mereka memberikanku roti. Kalau ada seorang Muslim yang memiliki sepotong roti ia akan berbagi denganku,” tulis Ibnu Ishaq, seorang penulis biografi awal Nabi Muhammad SAW, saat mengutip seorang tawanan perang.
Nabi Muhammad SAW juga memberikan perintah untuk tidak memaksa tawanan perang berpindah agama. Itu sebabnya, Nabi membiarkan penyembah berhala Thamamah Al-Hanafi yang tertangkap dalam pertempuran untuk tidak berpindah agama. Nabi lebih memilih meminta para sahabat untuk berdialog bersama Al-Hanafi saat penyembah berhala itu merasa terjamin keselamatannya.
Dalam pertempuran Badar, Nabi Muhammad SAW juga tidak membiarkan para tawanan berpakaian lusuh. Nabi memerintahkan para sahabat untuk memberikan pakaian yang layak.
“Setelah Perang Badar, para tawanan perang dibawa, di antara mereka adalah Al-Abbas bin Abdul Muthalib. Dia tidak punya baju, jadi Nabi mencari kemeja untuknya. Ternyata kemeja Abdullah bin Ubayy memiliki ukuran yang sama. Selanjutnya, Nabi (saw) memberikannya kepada Al-Abbas untuk dipakai,” (HR Bukhari).
Untuk penjahat perang, Islam punya penilaian sendiri. Penjahat perang tidak dapat dibunuh tanpa alasan yang sah. Islam mengatur dengan ketat persoalan ini.
Jangankan pada saat berperang, pada saat Rasulullah menyiarkan agama Islam pun, beliau sangat tawakal, sabar dan ikhlas. Contohnya disaat beliau dilempari kotoran manusia, beliau tak marah.
Disaat beliau dilempari batu hingga gigi beliau tanggal, beliau pun juga tak marah. Bahkan dikala itu malaikat Jibril langsung turun dan menanyakan kepada Rasulullah, apakah perlu manusia-manusia itu (yang menimpuki Nabi) ditindih oleh gunung (yang ada disekitar itu) olehku (malaikat Jibril).
Namun, Rasulullah tak mengijinkannya, bahkan beliau berkata kepada Jibril, “Jangan…, mereka tak tau apa-apa…”. Bisa dibayangkan betapa menderitanya Rasul ditimpuki, sehingga sekelas malaikat yang tak memiliki nafsu pun, sepertinya tak rela oleh keadaaan sang Khilafah hebat sepanjang masa itu. Dan kisah itu baru hanya beberapa contoh saja tentang sifat seorang Khilafah sejati.


 

 

 


 

 

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar